Adu Tajam Mohamed Salah Dan Sadio Mane

2026-01-14 09:39:08 By Ziga

Mohamed Salah, AFCON, dan Bayang-Bayang Rivalitas Sadio Mane

Liverpool tengah menghadapi periode sulit dalam urusan mencetak gol. Meski pelatih anyar Arne Slot sempat menilai kekuatan starting line-up The Reds tetap solid tanpa Mohamed Salah, kenyataan di lapangan menunjukkan sebaliknya. Absennya sang bintang dalam beberapa pekan terakhir membuat lini serang Liverpool kehilangan ketajaman.

Tak bisa dimungkiri, Liverpool sangat membutuhkan kembalinya “Raja Mesir” ke Anfield secepat mungkin. Namun, keinginan klub bertabrakan dengan ambisi pribadi Salah yang justru ingin memperpanjang kiprahnya di Piala Afrika (AFCON) 2025 di Maroko.

Salah bahkan secara terbuka menegaskan betapa pentingnya turnamen tersebut baginya.

“Saya sudah memenangkan hampir semua gelar dalam sepak bola, tapi inilah satu-satunya yang masih saya tunggu,” ujar Salah, Sabtu lalu.

Ambisi itu kini kian dekat menjadi kenyataan. Gol penentunya membawa Mesir menyingkirkan Pantai Gading dengan skor 3-2 di perempat final. Artinya, Salah hanya berjarak dua laga lagi dari gelar impiannya.

Namun, jalan menuju final kembali menghadirkan Sadio Mane sebagai penghalang. Bintang Senegal tersebut bukan hanya rival Salah di level internasional, tetapi juga sosok yang memiliki sejarah panjang bersamanya di Liverpool.

Rekan Setim yang Tak Pernah Benar-Benar Akrab

Bersama Roberto Firmino, Salah dan Mane membentuk trio penyerang paling mematikan dalam sejarah modern Liverpool. Mereka membawa The Reds menjuarai Liga Champions ke-7 dan mengakhiri penantian panjang gelar Liga Inggris.

Namun, di balik kesuksesan itu, hubungan pribadi Salah dan Mane tidak pernah benar-benar dekat. Firmino bahkan mengungkapkan dalam autobiografinya bahwa keduanya “bukan sahabat”.

“Mereka masing-masing menyendiri. Jarang sekali terlihat mereka berbincang,” tulis Firmino.

Ketegangan itu sempat memuncak dalam laga kontra Burnley pada musim 2019/2020. Mane terlihat sangat marah karena Salah dianggap terlalu egois. Bahkan setelah ditarik keluar oleh Jurgen Klopp, Mane masih meluapkan emosinya.

Rivalitas Mesir dan Senegal

Meski demikian, profesionalisme tetap dijaga. Firmino menegaskan bahwa Salah dan Mane tidak pernah membiarkan ketegangan pribadi merusak kepentingan tim.

Ia bahkan berspekulasi bahwa jarak di antara keduanya mungkin dipengaruhi oleh rivalitas Mesir dan Senegal di kompetisi Afrika.

Puncak rivalitas itu terjadi pada 2022, ketika Mane dan Senegal dua kali menyingkirkan Mesir—di final AFCON dan play-off Piala Dunia. Mane mencetak penalti penentuan di kedua laga tersebut.

Namun, Mane tidak pernah merayakan kemenangan itu dengan merendahkan Salah. Sebaliknya, ia justru memeluk dan menenangkan mantan rekan setimnya seusai final AFCON—sebuah gestur yang menunjukkan rasa saling menghormati.

Saling Menghormati di Tengah Kompetisi

Mane sendiri menilai rivalitasnya dengan Salah kerap dibesar-besarkan. Ia mengakui adanya persaingan ketat, tetapi menegaskan bahwa hal itu tidak pernah merugikan Liverpool.

“Mo juga orang yang sangat baik. Di lapangan, kadang dia mengoper, kadang tidak. Itu sepak bola,” kata Mane.

juga mengungkapkan bahwa konflik Burnley akhirnya diselesaikan lewat pembicaraan langsung.

“Keesokan harinya dia datang dan ingin bicara. Dia bilang tidak ada niat egois. Sejak saat itu, kami justru jadi lebih dekat,” ungkap Mane.

Menurut Mane, ambisi besar Salah untuk terus mencetak gol adalah hal wajar bagi pemain kelas dunia.

“Dia hanya ingin mencetak gol. Saya bilang padanya, saya bisa membantunya karena saya tidak punya masalah soal itu.”

Kini, rivalitas lama itu kembali hadir di panggung terbesar Afrika. Saat Salah mengejar satu-satunya trofi yang belum ia miliki, Sadio Mane sekali lagi berdiri di jalannya—bukan sebagai musuh, melainkan rival yang dihormati.

 

EMASPUTIHTOTO